Ollie is a girl with high passion in almost everything. She's a web developer, occasion photographer, fun writer, fashion designer wanna be & kutukutubuku entrepreneur. She's eager to achieve plenty more. To be a great mommy, a cooking master, an editor in chief of marie claire magazine & to be a crazy singer :) Contact her at auliah5 at gmail.com

Affiliates


Bahas game dan hardware terbaru.

Belanja buku online.


Diskusi buku di kutukutubuku bookclubs


Butik online. Sedia Jilbab Permata, Ciput, T-shirt, and many more.


Ollie's Favorite Hosting

My Books

Finding Soulmate For Mei

Look! I'm On Fire

Je M'appelle Lintang

Katakan Cinta

My Photos

Who's Reading

Subscribe

South East Asia Trip: Phuket

Diposting oleh salsabeela, 10:49 PM, October 21, 2007.


Setelah perjalanan selama kurang lebih 45 menit di pesawat, akhirnya kami tiba di Bandara Internasional Phuket. Nggak sabar banget rasanya pengen mengecap keindahan pulau ini. Gue dah super excited.

Setelah mendarat, langsung dihadapkan sama a whole different language. Kalau di Malaysia masih bisa ngerti bahasanya, sekarang dah totally blank. Papan penunjuk di airport juga udah mulai pake tulisan Thailand yang meliuk-liuk. Welcome… to Thailand!!

Booking Hotel

Langkah pertama kita setelah sampai adalah mencari hotel. Kita langsung merapat pada agen hotel yang memang banyak terdapat di dalam Bandara. Setelah mengingat dan menimbang budget dan lokasi yang kita inginkan, akhirnya kita memilih nginep di area Patong Beach (Kalo di Bali, kayak daerah Pantai Kuta-nya gitu), tepatnya di Andaman Resort dengan tarif 750 Baht semalam. Kita pesan untuk dua malam.

Trus gue iseng-iseng tanya ke tempat lain. Bueh. Ternyata di agen lain Andaman Resort Cuma 700 Baht semalam. Dan akhirnya pesen hotel lain di agen itu, biar ganti suasana aja. Booking Bel Aire Resort 2 malam juga untuk 800 Baht. Lebih mahal sih, tapi tempatnya lebih bagus. Ya gpp for the sake of experience. Oh ya, 1 Baht itu sekitar 300 Rupiah. Jadi kaliin aja ya :D

Setelah dapet tempat nginep, kita jalan keluar. Untuk ke daerah Patong Beach, kita memutuskan untuk naik Taxi Meter. Sayangnya antrian lumayan dan armada taksinya kurang. Terpaksa kita duduk di emperan sambil nunggu taksi dateng. Tarifnya 420 Baht dari Bandara sampai ke Patong Beach.

Low Money

Pas lagi nunggu taksi, ada orang Thailand nggak jelas gitu nawarin taksi limosine (taksi yang lebih mahal lah), trus kita gak mau. Trus dia tanya, “Where are you from?”, kita bilang, “Indonesia.” Trus dia bilang, “Ah… Indonesia… Low money a…!”.

Low Money? What the…??

Gue ngelirik dia dengan tatapan nggak ngerti. Maksod lo? Tapi gue diam aja. Gue lihat teman-teman gue juga pada bingung mau ngomong apa. Trus dia ngeliat kita diam, ngomong lagi, “Low money…,” sambil menggoyang-goyangkan tangannya di dekat dengkul. Gue lihat tampang bataknya Mery sudah mulai keluar. Kalo orang itu lebih lama lagi di situ mungkin Mery sudah akan menggorengnya bulat-bulat.

Patong Beach Area

Untung nggak lama taksinya datang. Hari itu cuaca nggak begitu bagus. Hujan rintik-rintik dan mendung. Gray banget. Tapi kita tetep excited. Kita semangat naik ke taksi, dan taksi pun meluncur membelah jalanan Phuket. Phuket ini berbukit-bukit dan reminds me a lot akan perjalanan dari Gilimanuk ke Denpasar. Kita melewati beberapa Wat (kuil) khas Thailand yang bikin suasana serasa di Thailand. Selain itu mah, rasanya kayak lagi di Purbalingga hehe.
Mirip banget lingkungan dan suasananya sama Indonesia. HUP. Taksi menaiki tanjakan lagi dan berliku agak tinggi, tapi di ujungnya, seperti pencerahan, gue bisa melihat hamparan gedung dan PANTAI. Akhirnya… setelah satu jam perjalanan kami tiba juga di daerah Patong Beach!


Ketika akhirnya sampai di Andaman Resort, kita udah lega banget. Kita langsung Check in deh.




Akhirnya… bisa istirahat sejenak… mandi… dan-

APA. NAIK TANGGA?

Yap. Di hotel ini tidak ada lift dan gue harus manjat dengan backpack gue ke kamar gue di lantai 4. Gue sama Mery di sana. Sedangkan Angel dan Kitin menempati kamar di lantai 2. Ini tentu saja tidak akan terasa melelahkan jika gue tidak lagi kecapekan banget!

Sampai di kamar, gue seneng ngelihat kondisi kamarnya yang cozy dan bersih. Mery mandi duluan, trus baru gue. Kita siap-siap buat dinner.

Berempat kita jalan keluar menyusuri Soi Sansabai (jalan tempat hotel kita berada), tempat yang strategis banget buat nginep di Patong Beach.




Makan Tom Yam di Thailand



Di jalan protokolnya, kita lanjut jalan ke arah tempat makan outdoor yang tadi kita lihat pas di taksi. Di sana, di pinggir jalan beratapkan bintang-bintang, kita bisa makan berbagai jenis seafood yang lezat.

Kita langsung ambil posisi. Pilih kepiting, udang, kerang, kangkung balacan (kangkungnya aneh di sini… yang dimasak adalah batangnya. Dan gede-gede. Batangnya! Tanpa daon sama sekali) dan nggak ketinggalan, the famous Tom Yam Gung.


Inilah makan malam kalap kami yang pertama di Thailand. Menghabiskan lebih dari 1000 Baht, kita enjoy banget dengan makanannya. Terutama Tom Yam yang begitu makan langsung bikin ketagihan.


Emang beda banget Tom Yam-nya. Hampir di setiap Dinner di Thailand, kita pesan Tom Yam. Dan rasanya selalu berbeda-beda, namun semuanya super enak. Satu-satunya Tom Yam yang rasanya paling nggak enak kita makan di Bangkok. Tapi itu juga masih lebih enak dibandingkan Tom Yam di Jakarta. (Ya iyalah hehe)

Selesai makan, gue langsung cari kartu perdana. Biar bisa komunikasi sama Goldy dan ortu. Gue dapet kartu perdana Happy dan gue isi 100 Baht. Dapet buat nelpon dan sms dikit. In fact, tiap hari gue isi pulsa minimal 100 Baht. Bikin rugi juga sih.

FYI, susah banget dapetin kartu perdana di Phuket. Nggak tau kenapa deh. Padahal ini kan daerah turis. Di Jakarta, di gang senggol aja perdana ada banyak diobral. Tanya kenapa…

Thai Boxing



Setelah dapet kartu perdana Happy, kita jalan menuju hotel. Di seberang jalan Soi Sansabai tempat kami menginap, ada gedung Thai Boxing yang menarik perhatian karena berwarna pink ngejreng. Setiap beberapa menit sekali, sebuah mobil box yang membawa petinju-petinju Kick Boxing yang telanjang dada itu, akan lewat sambil ribut mengumumkan jadwal pertandingan. Pengen nonton sih, but, well… rada mahal untuk turis budget kayak kita haha.

Jalan Maksiat

Nah, di sebelah gedung Thai Boxing, ada jalan gede yang namanya Bang La Road. Di situ gemerlap banget. Kita jadi pengen lihat ada apa di situ. Dan setelah melihat isinya, belakangan jalan tersebut kita beri nama jalan maksiat.



Kalau ada yang bilang wisata Thailand itu identik dengan wisata seks, mungkin benar juga. Di Bang La Road ini, semua hal yang mustahil gue lihat di Jakarta (or anywhere else in the world), terlihat dengan jelas. Bar-bar terbuka menampilkan wanita-wanita yang menari di atas meja dengan mengundang. Belum lagi godaan para she-male alias banci yang rata-rata pada cantik banget (jauh lebih cantik dari gue dah pokoknya). Trus cewek-cewek di sini pake bajunya nggak ada yang lebih dari bahan satu meter alias kurang bahan. Minuman keras dan tubuh wanita di sini menjadi hal yang wajar banget.

Gue yang berjilbab, Kitin yang anak Gereja, Angel yang imut alim manis dan Mery yang ‘budiman’ jadi melongo melihat era jahiliyah kayak gini.

But we enjoy it as part of our journey, anyway. Soalnya… SETIAP MALAM kami kembali ke Bang La Road. Haha…

Sebenarnya kita penasaran banget ke Bang La Road untuk mengejar Trinity. Siapa Trinity? Itu nama yang kita berikan untuk seorang She-male yang sangat attraktif dan hilarious. Waktu pertama ketemu dia, dia menggoda dengan gaya Aming tanpa henti. Lucu banget. Trus dia tuh bener-bener know how to dance hehe. Dan dia cantik banget dengan jubah putihnya yang panjang a la Trinity di The Matrix. We’re totally in love with her. Tapi sayang sampai kita pulang, Trinity nggak kunjung ‘perform’ lagi.

Hari kedua kita breakfast di tempat nggak jauh dari hotel. Pesen sandwich 80 Baht. Pas lagi nunggu sandwich, di setiap sudut resto ada cewek-cewek dengan baju minim. Di sudut sana malah ada yang lagi cium-ciuman dengan mesranya. Bo, ini jam 8 pagi. Dan mereka masih ON aja terus. Bir dan orang mabuk juga masih ada di mana-mana. Nggak betah banget deh di situ.

Ngomong-ngomong soal orang mabok, baru pertama kali ini gue ngeliat, orang mabok pulang jalan terseok-seok sambil teriak-teriak dan nyanyi-nyanyi gak jelas, trus kesandung batu, trus jatuh klontangan. Mirip kayak di komik-komik.

Untung kita nggak lama di tempat itu karena dijemput sama orang agen. Kemarin memang kita mendaftar untuk ikut Phi Phi Island tour.

Phi Phi Island… pulau yang menarik kami seperti magnet untuk datang ke Phuket… pulau lokasi syuting film The Beach-nya Leonardo Dicaprio… hmmm… kayak apa ya… udah nggak sabar…

(bersambung)

11 Comments

Cerita Mudik Part 2: From Purwokerto with Love

Diposting oleh salsabeela, 03:03 PM, October 18, 2007.




Alhamdulillah sampai juga di Jakarta. Home sweet home :D

Saat ini baru pulang dari struggle melawan arus balik setelah kurang lebih 3 hari menghabiskan waktu di kampung halaman nyokap.

Macet dan menderitanya di perjalanan nggak usah ditanya lagi deh hehe. But gue hampir bisa dibilang tidak banyak mengeluh. Kayaknya dulu gue pernah bilang juga. Jika lo pernah melakukan perjalanan dari Jakarta ke Bengkulu naik bis lewat Liwa, maka lo nggak akan pernah lagi mengeluh seumur hidup lo tentang perjalanan lain di dunia ini hahaha… because that’s probably the hardest journey of my adventurous life :D

Anyway… gue bangun pagi-paginya di Desa Panembangan, di rumah bude gue yang dekat dengan alam (baca: hutan). Pas mandi juga bisa ngintip pohon-pohon di luar sana. Iya, karena kamar mandinya memiliki ventilasi yang unik. Terdiri dari 4 bolongan segede batu bata yang berada tepat di jarak pandang lo (jadi bukan di atas banget atau di bawah banget, tapi di tengah hehehe). Mungkin awal-awal agak berasa gimana gitu, tapi, you’ll get used to it :D

Oh ya, hari itu hari Lebaran. Dan bokap cabut jam setengah lima pagi jalan kaki ke mesjid. Nyokap bilang, sholat jam setengah tujuh, so, kita-kita santai saja. Gue udah siap, lagi nunggu adek-adek gue, saat sholat Ied DIMULAI. Ternyata mulainya jam 6. Setengah jam lebih cepat dari perkiraan. Dan bisa ditebak, yang sholat Ied akhirnya cuma bokap dan pakde gue. The rest of us? Ya kasian :p

Setelah sungkem-sungkeman yang nggak berasa sungkem, kita pun nyekar ke makam pakde-pakde yang udah terlebih dahulu meninggalkan kita. Trus jalan ke Purwokerto demi menjemput bude yang lain untuk mengikuti acara keluarga Surawikrama di desa Karanglo.

Pas dateng ke acara halalbihalal di Karanglo, ternyata begitu kita dateng langsung salam-salaman dan acara kelar. Kebetulan deh. Abis itu langsung nyekar lagi ke makam kakek dan nenek gue. Sempet makan bakso juga (plus pinjam gerobak abang bakso). Enak!



Abis nyekar ke kakek nenek, berangkat nyekar lagi ke Pakde di Kracak. Trus mampir di rumah bude yang lain lagi. Di rumah bude yang lain lagi ini terdapat banyak banget jenis tanaman unik-unik. Dan FYI, tanaman-tanaman yang gue liat selama di desa lumayan bagus-bagus loh. Ada penggemar anthurium gak? Gue sih nggak ngerti menariknya dimana (secara gue nanem kaktus aja mati)… tapi orang yang hobi bisa mengejarnya hingga harga ratusan juta! Dan kayaknya di desa ini tersembunyi anthurium-anthurium liar (eh ada ga sih anthurium liar? Hehehe) potensial :D *mata ijo*

The next day, kita siap-siap untuk ikut halal bihalal keluarga Djajadiwangsa. Iyah, ini masih keluarga nyokap. Jadi gue akhirnya ‘nyangkut’ di dalam dua keluarga besar Surawikrama dan Djajadiwangsa.

Misteri ini baru terpecahkan beberapa tahun terakhir dalam hidup gue setelah menyimpan kepusingan selama 20 tahun. Selama ini gue selalu wondering, why in the world, my mom has two different families and bunch of brothers and sisters whose names I could never remember?!

Jawabannya simple, kakek gue kawin lagi. :D

Ceritanya kakek dan nenek gue, sebelum merit, adalah janda dan duda yang ditinggal mati pasangannya. Masing-masing dari mereka telah memiliki anak dari perkawinan terdahulu. Alhasil, begitu merit, nyokap gue telah menjadi bagian dari mereka juga. Sehingga kalo di tanya, jumlah sodara nyokap gue bisa ampe belasan. Tapi sebenernya yang kandung hanya satu (sudah meninggal long ago karena kecelakaan) dan ada yang twin meninggal saat bayi. Well, semoga nggak salah inget deh ceritanya :p Pokoknya intinya begitu :p

Tiap tahun, pasti tercetus keinginan dari nyokap gue and family untuk bikin silsilah keluarga, tapi entah kenapa nggak pernah ditindaklanjuti. Padahal ini penting banget, terutama akan sangat membantu gue dalam menelusuri asal usul gue. I can see myself building my mom’s village, but still figure out how

The next day, sudah hari bebas. Kita bebas mau ngapain aja. Kebetulan sepupu gue, Mbak Yuni, baru buka salon di Desa Karangsari. Rame banget katanya. Dari jam setengah 6 pagi hingga jam setengah 11 malem terus dipadati pengunjung!! Bused :D

Hari itu gue akhirnya minta potong rambut dan creambath yang dipegang secara ekslusif sama pemiliknya sendiri hehe :D

Sementara itu bokap gue mancing di kolam belakang rumahnya Mbak Yuni. Dapet gurame gede banget 2 ekor, sorenya digoreng dan dimasak asem manis. Enak buanget!

Ngomong-ngomong soal makanan, makanan Purwokerto (dan sekitarnya) yang paling gue favorite-in kalo pulang adalah
  1. Dage (kayak tempe yang dibuat dari ampas tahu… enak banget dimakan panas-panas)
  2. Ikan Melem (Ikannya sih kecil, tapi telurnya bisa berukuran setengah dari badannya!! Duh gue terharu banget ngeliatnya. Soalnya makan kepiting yang mahal itu aja belon tentu gue dapet telornya hehe)
  3. Mendoan (Penghasil tempe gitu loh)
  4. Es Kelapa Muda (Muda banget… asli deh… nggak ada yang kayak gini di Jakarta)
  5. Sroto Jalan Bank (Ga ngerti bedanya apa dari soto ayam biasa, tapi yang jelas nagih)

Duh laper deh gue… :D

Setelah mudik, gue and family ke Bandung belanja belanji seperti biasa. Heaven deh, soalnya ngajak Ifa, Mbak gue yang tidak mudik, sehingga bisa maksa dia belajar bikin Chicken Cordon Bleu favorite gue pas makan di Kartika Sari, dan bisa minta bawain belanjaan yang secara kalap gue ambil waktu di FO (harus diraup dulu semuanya, trus pas dicobain satu demi satu berguguran haha biasa deh masalah size :p)

Bahagia juga karena Pak Tijan is available to drive for us lebaran ini sehingga semua berjalan dengan lebih aman, nyaman dan lancar.

I thank Allah SWT untuk semua kebahagiaan lebaran yang gue rasakan tahun ini.

More pictures check out here…

15 Comments

Catatan Mudik Hari Pertama: Buku-buku hebat itu

Diposting oleh salsabeela, 03:05 AM, October 17, 2007.

Alhamdulillah sampai juga gue di kampung halaman nyokap di Desa Panembangan, Ajibarang, Jawa Tengah (pokoknya dekat Purwokerto deh), setelah perjalanan panjang kurang lebih 14 jam mengarungi jalan yang dilalui ratusan pemudik lain sehingga terpaksa merayap lebih dari 5 jam menyusuri jalan sekitar Jawa Barat.

Awalnya di mobil gue tidur. Dengan bantuan BioFIR, gue tidur nyenyak sekitar satu jam. Trus bangun dan mati gaya dan kemudian mulai pake iPod dan ngedengerin Mp3 yang sengaja gue download kemarin. Ada Ain’t No Sunshine (Lighthouse Family), Simply The Best (Tina Turner), Isn’t She Lovely (Stevie Wonder), Bridge Over Troubled Water (Ada 4 versi, versi asli dari Simon & Garfunkel, Clay Aiken, Bon Jovi dan Johny Cash. Why I have like 4 versions? It’s just for sentimental reason :p), hmmm apalagi ya di playlist gue… pokoknya all my favorites were there. Sampai akhirnya gue bosen denger lagu. Dan mengambil buku dari tas.

It’s Edensor. Buku ketiga-nya Andrea Hirata. Sebenernya buku ini sudah ngendon lama di rak buku gue. Tapi baru kali ini gue memutuskan untuk baca. Gue memang suka save the best for last 

Mulai dari awal, seperti biasa, Andrea atau Ikal berhasil memukau gue. Gaya bahasanya membuat pikiran gue traveling kemanapun dia bercerita. Diawali dengan kisah Belitongnya, tentang orang-orang yang menginspirasinya, tentang bagaimana ia mendapatkan namanya (pantas, gue merasa heran kalau nama orang Melayu tapi tidak berbau Islam sama sekali), tentang kuliahnya di Sorbonne (bagian yang paling memikat adalah saat Ikal dan Arai pertama kali melihat Menara Eiffel… pada bagian ini gue mengakui, pada saat membuat Je M’appelle Lintang, tak terpikir untuk menggambarkan Menara Eiffel seperti Ikal menggambarkannya dengan sempurna… bravo!), tentang perjalanan nekat backpackingnya keliling Eropa dan sebagian Afrika. Duh rasanya ingin nyemplung ikut berpetualang bersama Ikal dan Arai!

Gue mengagumi Andrea yang tak hanya berhasil menuliskan kisah hidupnya dengan ‘nyastra’ tapi juga mudah dibaca, memberikan inspirasi luar biasa tentang impian, memberikan pelajaran besar tentang kehidupan dan berhasil membuat gue tertawa terbahak-bahak membaca ‘pelajaran’ yang didapatkan Arai di sebuah mesjid di Eropa.

Gue menutup Edensor dengan tersenyum. Tapi macet masih panjang.

Untung gue bawa buku satu lagi. Kisah hidup juga. Biografi dari Dr. H. Bambang Marsono BA. MA. MM. MSc. MBA. PhD (hehe mudah-mudahan nggak salah nulis gelarnya ya Om… banyak bener&hellip, yang tak lain dan tak bukan adalah ayah dari The Famous Chandra Marsono :D

Beruntung beberapa waktu yang lalu memang sempat kenalan dengan papanya Chandra, ngobrol-ngobrol soal buku. Trus beliau ngasih gue buku biografi yang ditulis, diedit, di-design sampulnya, dan diurus tata letaknya BY HIMSELF hehehe. Keren deh Pak Bambang Marsono ini.

Seperti Edensor, gue juga menunggu waktu yang tepat untuk baca buku yang lumayan tebal ini. Dan gue sama sekali nggak menyesal menunda untuk membacanya. Dengan membaca di saat-saat diperlukan seperti sekarang ini, gue merasa lebih ‘khusyu’ aja.

Dalam biografinya, Pak Bambang menceritakan berbagai aspek dalam kehidupannya. Dimulai dengan gebrakannya yang bercerita tentang seorang anak kecil yang mengambil permainan judi yang sedang dimainkan di sebuah rumah tetangga dan dibuang ke halaman, hanya untuk membawa Ayahnya pulang ke rumah. Anak kecil itu adalah Pak Bambang sendiri. Keberanian seperti ini yang ditunjukkan secara konstan di dalam kisah hidupnya.

Teringat keberanian Andrea dalam menghadapi hidup, dalam Edensor, gue cuplik sedikit kata-katanya:

Pekerjaan itu tidak memberikanku kelimpahan, tapi memberi keamanan financial dan kehidupan yang itu-itu saja, demikian gampang diramalkan kesudahannya. Aku terjamin secara sederhana, terlindung oleh sistem, stabil secara psikologis, mapan secara social, dan semua itu membuatku bosan.

Aku ingin hidup mendaki puncak tantangan, menerjang batu granit kesulitan, menggoda mara bahaya, dan memecahkan misteri dengan sains.

Aku ingin kehidupan yang menggetarkan, penuh dengan penaklukan. Aku ingin hidup! Ingin merasakan sari pati hidup!

Senada dengan Andrea, Pak Bambang memutuskan untuk mendedikasikan hidupnya pada dunia pendidikan. Padahal saat itu ia sudah bekerja mapan, dengan gaji 6x gaji dokter hewan, di sebuah perusahaan advertising besar, mitra Unilever. Namun ia memutuskan untuk keluar dan fokus membesarkan Oxford Course Indonesia yang ia dirikan. Setelah itu, ia pun mulai mendirikan lembaga pendidikan lainnya seperti Universitas Satyagama, STIE Trianandra, STIE Trianandra Kartasura, ABA Prawira Martha dan masih banyak lagi.

Dari buku Pak Bambang, gue dapat banyak banget. Mulai dari kiat bisnis, membesarkan usaha sendiri, tips untuk mendapatkan banyak sahabat, hingga cerita spiritual saat beliau naik haji. Very inspiring.

Dan kepada kedua penulis yang bukunya sudah gue baca sepanjang perjalanan, thank you so much, for making me a better person.

Edensor bisa dibeli di kutukutubuku.com, sedangkan bukunya Pak Bambang yang berjudul Anak Singkong Jadi Raja itu belum diperjualbelikan (hanya beredar di kalangan sendiri). Jika ada yang penasaran pingin baca, silahkan mendesak penerbit komersial untuk menerbitkannya hehe. Jika ada penerbit yang nggak sabar ingin menerbitkan bukunya Pak Bambang, silahkan hubungi saya via email auliah5 at gmail.com atau langsung ke Chandra Marsono di chandramarsono at gmail.com

Lanjutan cerita mudiknya nanti ya Lebih seru!

1 Comments

Selamat Idul Fitri 1428H

Diposting oleh salsabeela, 08:42 PM, October 11, 2007.



Ps: Gue besok jadi mudik ke Purwokerto... errr... ke sebuah desa di dekat Purwokerto... err... jika satu jam perjalanan lancar bisa disebut dekat...

1 Comments

Tentang Heartyboutique.com

Diposting oleh salsabeela, 03:06 PM, October 4, 2007.

Mau cerita dikit soal heartyboutique.com. Butik ini sebenarnya gue bikin karena gue pengen punya label sendiri dan pengen jadi fashion designer (iya, kayak tokoh Lintang yang gue buat di Je M'appelle Lintang).

Trus setelah gue dapet toko di ITC Permata Hijau (Lt. 2 Blok D5 No. 9), ada online store-nya, dan semua udah running dengan smooth (My Mother, Hearty, as Director and my brother, Alif, as Manager), gue sendiri mulai agak-agak 'ngelepas' heartyboutique. Kadang-kadang aja mampir ke toko offline-nya buat bantuin jualan dengan mempraktekkan teknik-teknik sales praktis yang gue baca dari buku Positive Business Idea-nya James Gwee atau terima telepon di Hotline. Seru :D

Maka alangkah kagetnya saat gue iseng-iseng ketik 'Butik Online' di Google, ternyata heartyboutique.com berada di urutan pertama. Rasanya gue terharu banget. My baby sudah tumbuh and makes mommy proud...



Pengennya sih dalam waktu deket ini belajar Fashion Design and mulai produksi sendiri. Doakan ya

Kalo ada masukan pengen jilbab yang kayak gimana atau baju muslim yang kayak gimana, just let me know.

Oh ya, beli baju lebaran di Hearty Boutique aja

Trus kalau ada yang pengen nyemplung di bisnis online juga, silahkan share ke auliah5 at gmail.com See You!

Comment me!

« | »

Site powered by Tabulas.