Ollie is a girl with high passion in almost everything. She's a web developer, occasion photographer, fun writer, fashion designer wanna be & kutukutubuku entrepreneur. She's eager to achieve plenty more. To be a great mommy, a cooking master, an editor in chief of marie claire magazine & to be a crazy singer :) Contact her at auliah5 at gmail.com

Affiliates


Bahas game dan hardware terbaru.

Belanja buku online.


Diskusi buku di kutukutubuku bookclubs


Butik online. Sedia Jilbab Permata, Ciput, T-shirt, and many more.


Ollie's Favorite Hosting

My Books

Finding Soulmate For Mei

Look! I'm On Fire

Je M'appelle Lintang

Katakan Cinta

My Photos

Who's Reading

Subscribe

Inspirasi: kisah John Wood pendiri Room to Read

Diposting oleh salsabeela, 08:05 PM, October 25, 2007.

Saya merasa sangat tidak enak badan hari ini sehingga memutuskan untuk tetap di rumah alih-alih berangkat ke kantor. Saya tahu ini karena saya sangat tidak bertanggung jawab terhadap tubuh saya dan tidak terorganisasi dalam hal waktu. Saya begitu antusias dengan semua yang saya kerjakan menyangkut toko buku online tercinta, sehingga sering melupakan waktu. Saya akan menyeret tubuh saya hingga batas yang akhirnya tak sanggup ditangani lagi. Saya ambruk, itu sudah jelas.

Maka seperti kata teman saya kemarin, beristirahat dan asahlah kapakmu. Karena tak peduli berapa malam kamu habiskan untuk ‘menebang pohon’, pohon yang kamu hasilkan tidak akan pernah sesuai dengan harapanmu, malah akan terus berkurang hasilnya. Itu karena kapakmu yang terus menumpul. Istirahat dan asahlah kapakmu.



Jadi hari ini saya pun mengasah kapak saya. Saya bangun pagi ini dan meraih buku Leaving Microsoft to Change the World, sebuah memoir dari John Wood. Beberapa waktu yang lalu, saya melihat laki-laki tampan ini di Oprah. Dia adalah seorang eksekutif di Microsoft yang akhirnya memutuskan keluar dari segala kemapanan, untuk memenuhi ‘panggilan’ hidupnya untuk membantu sesama. Saat ini organisasi yang ia dirikan (Room to Read), telah mendirikan lebih dari 3000 perpustakaan dan sekolah (and counting) di berbagai wilayah di Asia.

Petualangan John dimulai saat ia akhirnya dapat berlibur di Nepal sebagai backpacker setelah menghadapi kehidupan serba cepat serba kompetitif di Microsoft. Saat itu ia bertemu dengan penduduk lokal yang memperkenalkannya kepada pendidikan di Nepal.

Ia begitu heran saat mengetahui di sebuah sekolah terpencil yang dikunjunginya, tidak ada satupun buku yang dapat dilihatnya di perpustakaan. Saat ditanya, sang kepala sekolah langsung mengeluarkan kunci untuk membuka lemari. Ternyata saking berharganya buku-buku itu dikunci di dalam lemari agar tidak rusak oleh tangan murid.

This reminds me a lot akan perpustakaan yang tidak pernah gue nikmati di kampus gue, Universitas Gunadarma. Gue nggak tau sekarang ya, tapi dulu, gue literally harus memilih buku dari sederet kertas-kertas usang di dalam laci berisi judul buku dan nama pengarang. Bukunya? Ada di balik tembok kaca di belakang tubuh para librarian. We can only watch with sparkling eyes dari luar :D 

Back to John Wood, saat lemari di buka, ternyata di sana hanya terlihat buku-buku novel percintaan, buku lonely planet usang, dan beberapa buku lain yang tampaknya hanya merupakan sampah milik backpacker asing yang memang banyak berseliweran di Nepal. John Wood pergi meninggalkan sekolah itu dengan banyak pikiran di kepalanya dan sebuah permintaan dari sang kepala sekolah, “Barangkali, Pak, suatu hari Anda akan kembali dengan buku-buku.”

John Wood pun mulai menulis email tentang hal ini kepada seluruh contacts di emailnya, dan responnya ternyata luar biasa. Efek bola salju akan email yang diforward telah berhasil mengumpulkan sekitar 3000 buku dan bantuan uang ribuan dollar.

Setelah itu, perlu beberapa bulan bagi John Wood untuk kemudian mantap dengan panggilan hidupnya. Ia meninggalkan kemapanan di Microsoft dan meninggalkan wanita yang dicintai, namun memiliki visi hidup yang berbeda dengannya, untuk mulai merubah dunia.

Meski dipandang dengan skeptis pertama kali dengan pikiran besarnya untuk membangun jutaan perpustakaan, namun sedikit demi sedikit John membuktikan komitmennya.

Saya terkesan dengan cerita John tentang seorang anak di Vietnam yang bernama Vu yang ia temui saat ia sedang berlibur. Vu sangat cerdas dan di tempat kursus komputernya, dia salah satu yang terbaik. Vu menyadari dia harus lebih banyak berlatih untuk dapat lebih mendalami komputer. Namun untuk berlatih, Vu harus membayar 1000 dong atau sekitar 10 sen per jam.

Dengan uangnya, Vu hanya bisa berlatih selama 4 jam seminggu, padahal ia berharap lebih. John tercenung. Ternyata dengan 10 sen, itu sudah cukup untuk membantu seorang anak mendapatkan pendidikan lebih memadai.

Silahkan lanjutkan baca kisah Vu di bukunya, sangat menarik tentang bagaimana setelah 8 tahun Vu dapat sukses menjadi ‘orang’ di Vietnam, dan bagaimana uang $20 dari John telah membantu merealisasikan hal itu. Sedikit uang yang Anda pikir tidak berarti, mampu merubah hidup orang lain. Begitu kira-kira pesan Wood.

Meskipun di buku itu ada beberapa ‘keluh kesah’ John Wood soal dirinya yang tidak digaji bertahun-tahun (Dia mengandalkan tabungan dan sahamnya di Microsoft yang nilainya terus menurun), tidak punya rumah (John mampu membeli rumah namun ia hanya mampu membeli rumah yang jauh dari kantor Room to Read dan dia memilih untuk terus menyewa), tidak punya pacar (karena kesibukannya di organisasi), namun ia menyadari sesuatu,

 “Saya telah menemukan satu hal yang saya inginkan – sebuah karier yang bermakna dan tentang hal ini saya merasakan gairah. Setiap bangun saya ingin sekali melompat dari tempat tidur dan pergi ke kantor, dan saya bersemangat untuk hal apa saja yang hari itu saya kerjakan. Itulah kemewahan yang langka di dunia ini.

Dan saya setuju sekali dengannya.

2 Comments

Login to your account to post comment

You are not logged into your Tabulas account. Please click here to login.

amrinz (guest)

Comment posted on October 28th, 2007 at 08:56 PM
cerita yang sabgat bagus, dan tulisannya mengalir banget.

aku suka!!!
Comment posted on October 27th, 2007 at 07:52 AM
Sebuah usaha yang perlu ditiru! Memang pelajaran akan datang dari sumber yang mungkin tidak kita duga sama sekali, dan datang pada saat yang tidak kita duga juga.

sukses ya mbak ollie....

Site powered by Tabulas.