Ollie is a girl with high passion in almost everything. She's a web developer, occasion photographer, fun writer, fashion designer wanna be & kutukutubuku entrepreneur. She's eager to achieve plenty more. To be a great mommy, a cooking master, an editor in chief of marie claire magazine & to be a crazy singer :) Contact her at auliah5 at gmail.com

Affiliates


Bahas game dan hardware terbaru.

Belanja buku online.


Diskusi buku di kutukutubuku bookclubs


Butik online. Sedia Jilbab Permata, Ciput, T-shirt, and many more.


Ollie's Favorite Hosting

My Books

Finding Soulmate For Mei

Look! I'm On Fire

Je M'appelle Lintang

Katakan Cinta

My Photos

Who's Reading

Subscribe

Entries for October 21st, 2007

South East Asia Trip: Phuket

Diposting oleh salsabeela, 10:49 PM, October 21, 2007.


Setelah perjalanan selama kurang lebih 45 menit di pesawat, akhirnya kami tiba di Bandara Internasional Phuket. Nggak sabar banget rasanya pengen mengecap keindahan pulau ini. Gue dah super excited.

Setelah mendarat, langsung dihadapkan sama a whole different language. Kalau di Malaysia masih bisa ngerti bahasanya, sekarang dah totally blank. Papan penunjuk di airport juga udah mulai pake tulisan Thailand yang meliuk-liuk. Welcome… to Thailand!!

Booking Hotel

Langkah pertama kita setelah sampai adalah mencari hotel. Kita langsung merapat pada agen hotel yang memang banyak terdapat di dalam Bandara. Setelah mengingat dan menimbang budget dan lokasi yang kita inginkan, akhirnya kita memilih nginep di area Patong Beach (Kalo di Bali, kayak daerah Pantai Kuta-nya gitu), tepatnya di Andaman Resort dengan tarif 750 Baht semalam. Kita pesan untuk dua malam.

Trus gue iseng-iseng tanya ke tempat lain. Bueh. Ternyata di agen lain Andaman Resort Cuma 700 Baht semalam. Dan akhirnya pesen hotel lain di agen itu, biar ganti suasana aja. Booking Bel Aire Resort 2 malam juga untuk 800 Baht. Lebih mahal sih, tapi tempatnya lebih bagus. Ya gpp for the sake of experience. Oh ya, 1 Baht itu sekitar 300 Rupiah. Jadi kaliin aja ya :D

Setelah dapet tempat nginep, kita jalan keluar. Untuk ke daerah Patong Beach, kita memutuskan untuk naik Taxi Meter. Sayangnya antrian lumayan dan armada taksinya kurang. Terpaksa kita duduk di emperan sambil nunggu taksi dateng. Tarifnya 420 Baht dari Bandara sampai ke Patong Beach.

Low Money

Pas lagi nunggu taksi, ada orang Thailand nggak jelas gitu nawarin taksi limosine (taksi yang lebih mahal lah), trus kita gak mau. Trus dia tanya, “Where are you from?”, kita bilang, “Indonesia.” Trus dia bilang, “Ah… Indonesia… Low money a…!”.

Low Money? What the…??

Gue ngelirik dia dengan tatapan nggak ngerti. Maksod lo? Tapi gue diam aja. Gue lihat teman-teman gue juga pada bingung mau ngomong apa. Trus dia ngeliat kita diam, ngomong lagi, “Low money…,” sambil menggoyang-goyangkan tangannya di dekat dengkul. Gue lihat tampang bataknya Mery sudah mulai keluar. Kalo orang itu lebih lama lagi di situ mungkin Mery sudah akan menggorengnya bulat-bulat.

Patong Beach Area

Untung nggak lama taksinya datang. Hari itu cuaca nggak begitu bagus. Hujan rintik-rintik dan mendung. Gray banget. Tapi kita tetep excited. Kita semangat naik ke taksi, dan taksi pun meluncur membelah jalanan Phuket. Phuket ini berbukit-bukit dan reminds me a lot akan perjalanan dari Gilimanuk ke Denpasar. Kita melewati beberapa Wat (kuil) khas Thailand yang bikin suasana serasa di Thailand. Selain itu mah, rasanya kayak lagi di Purbalingga hehe.
Mirip banget lingkungan dan suasananya sama Indonesia. HUP. Taksi menaiki tanjakan lagi dan berliku agak tinggi, tapi di ujungnya, seperti pencerahan, gue bisa melihat hamparan gedung dan PANTAI. Akhirnya… setelah satu jam perjalanan kami tiba juga di daerah Patong Beach!


Ketika akhirnya sampai di Andaman Resort, kita udah lega banget. Kita langsung Check in deh.




Akhirnya… bisa istirahat sejenak… mandi… dan-

APA. NAIK TANGGA?

Yap. Di hotel ini tidak ada lift dan gue harus manjat dengan backpack gue ke kamar gue di lantai 4. Gue sama Mery di sana. Sedangkan Angel dan Kitin menempati kamar di lantai 2. Ini tentu saja tidak akan terasa melelahkan jika gue tidak lagi kecapekan banget!

Sampai di kamar, gue seneng ngelihat kondisi kamarnya yang cozy dan bersih. Mery mandi duluan, trus baru gue. Kita siap-siap buat dinner.

Berempat kita jalan keluar menyusuri Soi Sansabai (jalan tempat hotel kita berada), tempat yang strategis banget buat nginep di Patong Beach.




Makan Tom Yam di Thailand



Di jalan protokolnya, kita lanjut jalan ke arah tempat makan outdoor yang tadi kita lihat pas di taksi. Di sana, di pinggir jalan beratapkan bintang-bintang, kita bisa makan berbagai jenis seafood yang lezat.

Kita langsung ambil posisi. Pilih kepiting, udang, kerang, kangkung balacan (kangkungnya aneh di sini… yang dimasak adalah batangnya. Dan gede-gede. Batangnya! Tanpa daon sama sekali) dan nggak ketinggalan, the famous Tom Yam Gung.


Inilah makan malam kalap kami yang pertama di Thailand. Menghabiskan lebih dari 1000 Baht, kita enjoy banget dengan makanannya. Terutama Tom Yam yang begitu makan langsung bikin ketagihan.


Emang beda banget Tom Yam-nya. Hampir di setiap Dinner di Thailand, kita pesan Tom Yam. Dan rasanya selalu berbeda-beda, namun semuanya super enak. Satu-satunya Tom Yam yang rasanya paling nggak enak kita makan di Bangkok. Tapi itu juga masih lebih enak dibandingkan Tom Yam di Jakarta. (Ya iyalah hehe)

Selesai makan, gue langsung cari kartu perdana. Biar bisa komunikasi sama Goldy dan ortu. Gue dapet kartu perdana Happy dan gue isi 100 Baht. Dapet buat nelpon dan sms dikit. In fact, tiap hari gue isi pulsa minimal 100 Baht. Bikin rugi juga sih.

FYI, susah banget dapetin kartu perdana di Phuket. Nggak tau kenapa deh. Padahal ini kan daerah turis. Di Jakarta, di gang senggol aja perdana ada banyak diobral. Tanya kenapa…

Thai Boxing



Setelah dapet kartu perdana Happy, kita jalan menuju hotel. Di seberang jalan Soi Sansabai tempat kami menginap, ada gedung Thai Boxing yang menarik perhatian karena berwarna pink ngejreng. Setiap beberapa menit sekali, sebuah mobil box yang membawa petinju-petinju Kick Boxing yang telanjang dada itu, akan lewat sambil ribut mengumumkan jadwal pertandingan. Pengen nonton sih, but, well… rada mahal untuk turis budget kayak kita haha.

Jalan Maksiat

Nah, di sebelah gedung Thai Boxing, ada jalan gede yang namanya Bang La Road. Di situ gemerlap banget. Kita jadi pengen lihat ada apa di situ. Dan setelah melihat isinya, belakangan jalan tersebut kita beri nama jalan maksiat.



Kalau ada yang bilang wisata Thailand itu identik dengan wisata seks, mungkin benar juga. Di Bang La Road ini, semua hal yang mustahil gue lihat di Jakarta (or anywhere else in the world), terlihat dengan jelas. Bar-bar terbuka menampilkan wanita-wanita yang menari di atas meja dengan mengundang. Belum lagi godaan para she-male alias banci yang rata-rata pada cantik banget (jauh lebih cantik dari gue dah pokoknya). Trus cewek-cewek di sini pake bajunya nggak ada yang lebih dari bahan satu meter alias kurang bahan. Minuman keras dan tubuh wanita di sini menjadi hal yang wajar banget.

Gue yang berjilbab, Kitin yang anak Gereja, Angel yang imut alim manis dan Mery yang ‘budiman’ jadi melongo melihat era jahiliyah kayak gini.

But we enjoy it as part of our journey, anyway. Soalnya… SETIAP MALAM kami kembali ke Bang La Road. Haha…

Sebenarnya kita penasaran banget ke Bang La Road untuk mengejar Trinity. Siapa Trinity? Itu nama yang kita berikan untuk seorang She-male yang sangat attraktif dan hilarious. Waktu pertama ketemu dia, dia menggoda dengan gaya Aming tanpa henti. Lucu banget. Trus dia tuh bener-bener know how to dance hehe. Dan dia cantik banget dengan jubah putihnya yang panjang a la Trinity di The Matrix. We’re totally in love with her. Tapi sayang sampai kita pulang, Trinity nggak kunjung ‘perform’ lagi.

Hari kedua kita breakfast di tempat nggak jauh dari hotel. Pesen sandwich 80 Baht. Pas lagi nunggu sandwich, di setiap sudut resto ada cewek-cewek dengan baju minim. Di sudut sana malah ada yang lagi cium-ciuman dengan mesranya. Bo, ini jam 8 pagi. Dan mereka masih ON aja terus. Bir dan orang mabuk juga masih ada di mana-mana. Nggak betah banget deh di situ.

Ngomong-ngomong soal orang mabok, baru pertama kali ini gue ngeliat, orang mabok pulang jalan terseok-seok sambil teriak-teriak dan nyanyi-nyanyi gak jelas, trus kesandung batu, trus jatuh klontangan. Mirip kayak di komik-komik.

Untung kita nggak lama di tempat itu karena dijemput sama orang agen. Kemarin memang kita mendaftar untuk ikut Phi Phi Island tour.

Phi Phi Island… pulau yang menarik kami seperti magnet untuk datang ke Phuket… pulau lokasi syuting film The Beach-nya Leonardo Dicaprio… hmmm… kayak apa ya… udah nggak sabar…

(bersambung)

12 Comments

Site powered by Tabulas.